M Husni Liwin, Pematung Dayak dari Kalimantan Tengah, profilnya dimuat di KOMPAS
M Husni Liwin, Pematung Dayak
Senin, 13 Oktober 2008 | 16:33 WIB
Oleh C Anto Saptowalyono
Di Palangkaraya, ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah, M Husni Liwin adalah satu di antara sedikit pematung yang dikenal masyarakat setempat. Padahal, seni ukir patung tradisional Kalteng menjadi salah satu ciri khas budaya daerah itu. Ratusan jenis patung khas Dayak buah karya Husni Liwin (53) sudah menyebar tidak hanya di Kalteng, tetapi juga sampai di Kalimantan Selatan, Bali, bahkan ke luar negeri.
Pematung tradisional di Kalteng umumnya sulit berkembang karena mereka sangat bergantung pada pesanan. Namun, usaha yang digeluti Husni Liwin lebih dari 10 tahun terakhir bisa tetap bertahan dan membuahkan hasil relatif mencukupi.
Setidaknya, sebuah rumah beton berukuran 11 x 11,5 meter persegi di Jalan Raden Saleh, Palangkaraya, yang ditinggali keluarga Husni Liwin, menjadi salah satu bukti larisnya penjualan patung khas Dayak karyanya.
”Patung yang saya buat bermacam-macam bentuknya, ada sapundu, karuhei, hingga sababuka atau bukung,” kata Husni Liwin.
Sapundu adalah patung berbentuk manusia yang dipakai untuk menambatkan hewan kurban saat upacara tiwah atau mengantar roh leluhur. Sapundu untuk tiwah ini berbahan baku kayu ulin.
Selain untuk keperluan tiwah, ada juga sapundu yang didirikan di sungai, yakni di sekitar tempat pemasangan mihing atau perangkap ikan. Sapundu untuk keperluan pemasangan mihing ini bahan bakunya dari kayu kaja, tabulus, dan benuang.
Ada sekitar 50 sapundu buatan Husni, antara lain tersebar di Palangkaraya dan Kabupaten Pulang Pisau. Harga jual sapundu buatan Husni bervariasi, tergantung ukuran dan kerumitan ukiran, maksimal Rp 3 juta per buah. Lama pembuatan sapundu bisa sampai satu setengah bulan.
Adapun patung karuhei yang diukir Husni jumlahnya mencapai sekitar 500 buah. Patung karuhei inilah yang kemudian tersebar hingga ke Pulau Dewata, bahkan ke Amerika Serikat dan Kanada. Harga jual patung karuhei ini juga beragam, mulai dari Rp 25.000 hingga Rp 300.000 per buah. Pembuatan patung karuhei ini bisa diselesaikan dalam waktu satu hingga dua hari.
Patung karuhei berwujud manusia, binatang, atau pujut. ”Pujut itu seperti manusia, tapi dia tinggal di hutan dan tidak bisa dilihat mata kalau tidak kebetulan orang itu ada rezeki,” kata Husni. Berdasarkan kamus Dwibahasa Dayak Ngaju-Indonesia, pujut diterjemahkan sebagai hantu runjung (semihantu yang kepalanya merunjung/lancip).
Kayu manang dan kajunjung adalah jenis kayu yang cocok untuk patung karuhei. Kayu manang ini bukan nama jenis pohon, tetapi merupakan penyebutan untuk kayu yang menang bersaing.
Misalnya, kayu lunuk (beringin) tumbuh berdekatan dengan kayu ulin dan tahu-tahu beringin tersebut mati dan ulin yang hidup. Maka yang menang dan kemudian disebut sebagai kayu manang itu adalah ulin.
Patung karuhei ini biasanya dipakai untuk ”penjaga rumah”. Penggunaan kayu manang, kata Husni, hakikatnya untuk menangkis hal-hal jahat. Adapun patung karuhei yang sifatnya untuk mengundang rezeki dibuat dari kayu kajunjung dan kanaruhung. Keduanya adalah jenis kayu rimba, tidak terlalu keras, seratnya lurus.
Menurut Husni, patung karuhei yang besarnya tidak sampai seukuran pergelangan tangan juga dapat dibawa ke ladang waktu menugal padi. Patung ini kemudian diberi sesaji darah ayam atau telur, ketupat atau ketan, serta kemenyan. ”Fungsi patung ini untuk menjaga ladang dari penyakit padi sehingga petani dapat rezeki besar,” paparnya.
Adapun sababuka atau bukung adalah istilah Dayak untuk menyebut topeng. Sababuka atau bukung ini dipakai pada ritual kematian atau tiwah. Biasanya sababuka dibuat dari kayu gabus, tetapi Husni memilih menggunakan kayu ulin. Harga sababuka Rp 150.000 hingga Rp 250.000 per buah.
Keterampilan Husni mengukir patung diperolehnya secara otodidak. Menurut dia, bakatnya itu diwarisi dari orangtuanya, seorang basir atau pemimpin upacara adat yang pandai membuat patung.
Kemampuan itu makin terasah saat Husni bekerja sebagai petugas konservasi di Museum Balanga, Palangkaraya, pada tahun 1998. Di museum yang menyimpan koleksi banyak barang peninggalan budaya itulah Husni dapat mengetahui ragam seni ukir Dayak tinggalan leluhur.
Uniknya, dalam pembuatan patung-patung tersebut Husni tanpa terlebih dulu membuat pola atau membuat gambar. Dengan pahat dan palu, Husni langsung mengukir kayu-kayu yang sudah disiapkan. Dia tidak mengampelas patung itu. ”Sebab, banyak yang suka patung Dayak yang tidak diampelas. Meski patung kelihatan kasar, tapi alami,” katanya.
Selain untuk melestarikan seni ukir Dayak, kata Husni, hal yang mendorongnya mengukir patung adalah karena adanya nilai ekonomis dari karyanya tersebut. Sebelum peristiwa bom Bali, lewat seorang temannya, dia acap mengirim karyanya ke pengumpul di Pulau Dewata.
Turis asing pun sering ke Palangkaraya, bahkan ada yang datang langsung ke rumah Husni untuk membeli patung. Namun, usaha patung Husni berangsur surut ketika peristiwa peledakan bom di Bali.
Setelah tragedi di Bali itu, tidak banyak lagi orang yang memesan patung. Namun, di luar jam kerjanya, Husni yang pernah mengikuti beberapa pameran di Palangkaraya dan Bandung ini masih mengukir. Patung- patung karyanya dapat dijumpai di salah satu toko suvenir di Jalan Halmahera, Palangkaraya.
Terkadang dia juga menunjukkan keterampilannya di depan publik, misalnya saat Festival Isen Mulang menyambut Hari Ulang Tahun Provinsi Kalteng. Tidak banyak yang masih setia menggeluti usaha patung khas Dayak di tengah gempuran pasar yang kurang bersahabat. Husni salah satunya. Tulisan asli di sini |
|
|